MIDO Automatic Chronograph. BIG and Chunky Mido!


Sejak pertama kali melihat Mido ini beberapa tahun lalu, saya sudah menyukai penampilannya yang besar, tebal dan terlihat 'berotot' Mido ini diproduksi tahun 70-an ketika era jam dengan diameter besar belum menjadi trend. Karena itu desain Mido ini menjadi eye catching pada masanya. Mido sendiri termasuk merek low-end yang keberadaannya masih berlanjut sampai sekarang. Merek ini pernah menjadi idola di Indonesia periode tahun 70-an. hampir setiap orang berumur yang saya temui selalu mengatakan kalau Mido memang menjadi semacam 'penanda' level seseorang pada saat itu. Tipe yang seringkali digunakan adalah Commander dan Mido Chronometer.

Nama Mido sempat bagus pada periode itu (awal- mid 70's) dan masuk dalam 10 besar merek jam global yang mendapatkan jumlah jam paling banyak dalam uji Chronometer oleh lembaga penguji independen COSC. Mido disejajarkan (terpaut tidak jauh) dari apa yang dihasilkan oleh Rolex dan Breitling. Namun semakin lama, nama Mido semakin menurun popularitasnya.

Mido chronograph ini menggunakan automatic chronograph movement dari Valjoux 7750, yang merupakan automatic chronograph movement yang paling banyak digunakan oleh begitu banyak merek, dari mulai merek low-end sampai high-end (Panerai dll). Movement ini terbuksi tangguh dan bagusnya lagi, mudah perawatannya. Hal ini pula yang menyebabkan 7750 menjadi movement favorit.

Sejauh pengamatan saya, Mido automatic chronograph vintage keluar dalam 2 versi dial, yang berwarna biru dan gold. Finishing juga ada 2 jenis, yaitu steel dan gold plated. Salah satu kelemahan dari pewarnaan Mido chronograph ini adalah tidak tahan terhadap kelembaban dan oksidasi sehingga seringkali kita melihat sudah mulai terdapat perubahan warna pada dial. Mido dalam koleksi saya ini termasuk kategori 'paling ringan' untuk proses perubahan warna-nya, karena hanya sedikit di beberapa tempat. Perubahan warna karena proses kelembaban dan oksidasi biasanya dimulai dari bagian tepi sub register, kemudian merambat secara perlahan ke bagian lain. Kondisi yang paling parah yang pernah saya temui adalah seluruh dial sudah berubah warna. Walaupun perubahan warna sudah mendominasi permukaan dial, tapi tulisan-tulisan yang terdapat pada dial tetap jelas terbaca. Hal ini mungkin disebabkan karena jenis pewarna zat kimia yang digunakan pada dial dan tulisan adalah berbeda. Mido chronograph saya ini warna birunya masih mendominasi dan terlihat masih bagus.

Jenis rantai yang digunakan tidak berbeda dengan model rantai yang sering digunakan pada seri Mido Commander atau Chronometer, yaitu desain serupa balok pipih dan tidak begitu tebal. kalau dilihat dari komposisi dan proporsi dengan tebal casing, desain rantai ini menurut saya masih agak ketipisan. Tapi hal yang menguntungkan dengan desain rantai yang tipis adalah kenyamanan ketika dikenakan di tangan. Cutting pada casing terliat dengan jelas. Finishing casing yang menghadap keatas adalah brushed finished sedangkan casing bagian samping polished finished. Model finishing seperti ini memang menjadi trend pada era tahun 70-an. Jam chronograph Omega juga menggunakan pola finishing seperti ini. Dari sudut desain, pola pembedaan ini menarik karena seolah memperkuat efek 3 dimensi dari sebuah jam dan jam menjadi lebih berkarakter. Seringkali saya melihat jam dengan model finishing seperti menjadi 'gundul' karena jam dipoles di semua bagian casing sehingga semua sudut menjadi polished finished. Tentu saja hal ini akan mengutangi keindahan dari sebuah jam.


Dengan diameter 42mm dan tebal sekitar 14mm, jam ini terlihat chunky dan berotot. Walaupun begitu, jam ini tetap nyaman saat dikenakan, apalagi dengan menggunakan rantai aslinya. Untuk menemani Mido Chronograph ini, saya sekarang sedang mencari rado automatic chronograph yang menggunakan movement yang sama dan juga diproduksi pada periode yang sama. Dari yang saya amati, mendapatkan rado automatic chronograph masih jauh lebih sulit dari Mido...


0 Responses So Far: