Phase-Phase dalam mengumpulkan Arloji Antik: Phase 1


Kegemaran saya dalam mengumpulkan jam tangan antik bermula pada tahun 1997. Saat itu saya diberi sebuah jam merk Titus antik dalam keadaan masih bagus. Saat itu saya heran sekaligus takjub, karena jam itu jarum detiknya tidak berdetak tapi bergulir dengan halus. Ketakjuban saya bertambah setelah saya buka case back jam itu ternyata tidak ada batre-nya seperti jam lain, melainkan sekumpulan parts yang bergerak mekanik secara teratur. Bagi saya, pergerakan mekanis parts itu begitu menyenagkan untuk dilihat dan dikagumi. Apalagi setelah saya tahu bahwa jam itu dibeli pakdhe saya pada tahun 1951 seharga Rp.50. Sejak saat itu kegandrungan terhadap jam-jam antik semakin tinggi dan berubah menjadi sebuah hobi yang menggairahkan.
Posting kali ini saya ingin menceritakan sebuah pengalaman dari diri saya mengenai hobi ini. Karena saya lihat ada beberapa rekan yang kelihatannya memiliki fase-fase yang sama dengan yang saya alami. Posting ini hanyalah pendapat pribadi dan saya yakin banyak dari anda yang memiliki pendapat dan pengalaman berbeda dengan yang saya alami.
Fase 1: Eforia perburuan dan mengumpulkan jam antik

Memang 'kegilaan' akan jam antik semakin tinggi karena jam antik bukan lagi dipandang sebagai penunjuk waktu, tapi bisa juga sebagai bukti sejarah dari masa lalu, perkembangan desain dan teknologi,ostalgia terhadap suatu masa dan salah satu penanda suatu perubahan peradaban. Karena itu saat awal mengoleksi sampai sekarang masalah akurasi bukanlah merupakan prioritas utama saya dalam memilih jam antik untuk dimiliki. Kalau dapat jam antik yang akurasinya masih bagus ya syukur kalau nggak (tapi masih wajar) ya ok-ok saja. Mungkin dulu prinsip saya adalah AAS (Asal Antik Sikaattt!).

Merek-merek awal yang sering saya temui, dapatkan dan miliki adalah dari merek Titoni dan Titus. Kayaknya merek jam ini adalah merek 'sejuta umat' karena sejak dulu sampai sekarang masih saja banyak dan mudah dijumpai. Alangkah gembiranya dulu saat mendapatkan sebuah jam Titus atau Titoni yang masih dalam keadaan jalan apalagi produksi tahun 50-60an. Dengan harga yang sangat terjangkau (untuk ukuran pegawai baru) dan desainnya menarik. Entah berapa banyak jam-jam dari kedua merek ini yang keluar masuk dalam koleksi saya dulu.



Kegemaran dan semangat mencari dan mengumpulkan jam antik yang masih tinggi membuat saya sering sekali keluar masuk pasar di kota manapun saya ditugaskan saat tugas kantor. kalau teman kantor lain biasnya tanya dimana tempat makan yang enak saat bertugas di sebuah kota, saya malah tanya "mas, dimana letak pasar besar ya?". Karena memang seringkali jam-jam antik itu saya dapatkan di pasar-pasar besar di kota-kota, karena saat itu saya tidak tahu tempat lain (toko atau kolektor) yang memiliki jam-jam tersebut. Perubahan lain yang saya tidak sadari adalah selalu melihat ke pergelangan tangan orang lain untuk bisa melihat jam apa yang mereka pakai. kalau jam yang dipakai jam baru, maka mata langsung berpindah. Tapi kalau yang dipakai adalah jam antik dan kebetulan kita tidak pernah lihat, maka mata kita akan seringkali tanpa sadar melihat ke tangan tersebut. Dalam sebuah meeting dengan klien, saya melihat terus ke tangan salah seorang peserta meeting karena saya senang dan kagum dengan jam yang dia pakai. Jam nya sederhana, dial warna hitam, pasti antik, dan penampilannya sangat enak untuk dilihat. Mungkin karena merasa dilihat terus, maka pada saat break dan kebetulan kami berbincang, dia langsung bilang "Ini Rolex date 1500 mas, dikasih dari bapak saya yang beliau beli tahun 1968..". Waduh pantessss bagus!. Sebagai pegawai baru yang baru belajar mengoleksi jam antik, merek Rolex sepertinya sudah merupakan merek yang tak terjangkau (saat itu sih memang ya nggak bisa terjangkau oleh saya..), karena itu saya hanya bisa mengagumi dari jauh saja.
Merek lain yang juga sering saya jumpai adalah MIDO. Ini juga salah satu dari jam 'sejuta umat' yang sampai sekarang pun masih banyak dijumpai. Saya ingat sekali saat mendapatkan jam Mido Chronometer pertama saya, bangganya luar biasa. Bagi saya, merupakan pencapaian yang sudah luar biasa mendapatkan sebuah Mido chronometer yang masih bagus lengkap dengan rantainya yang saya beli dari sebuah tempat service jam di Pasar Beringhardjo Yogya. Jam itu kemana-mana saya pakai dan saya jelaskan kepada siapapun yang tanya (dan yang tidak tanya) mengenai jam itu. Kemudian setelah agak lama mungkin bosan, akhirya saya beralih untuk mencari MIDO multifort yang lebih antik lagi. Dan pernah memiliki sampai beberapa buah. 3 buah contohnya ada di gambar di bawah.

Jam antik unik yang pernah saya miliki dan saya bangakan adalah 2 buah jam rusia yang saya dapatkan dari seorang rekan penggemar jam antik juga. Saya banga dengan jam ini karena desain dialnya beda daripada jam lain. Yang pertama bergambar 'palu arit', bintang merah dan tulisan 'The Party is Over' dan jam kedua gambar kepala-nya Gorbachev. Jam ini sempat agak lama saya simpan dalam koper sampai akhirnya berpindah tangan untuk dirawat oleh sesama penggemar jam antik. jam rusia ini adalah sebuah contoh jam antik yang merupakan 'saksi sejarah' dalam sebuah perubahan jaman. Merupakan sebuah jam yang berisi propaganda dari pmerintah Uni Soviet.

Karena prinsip saya dalam mengoleksi waktu itu masih Asal Antik Sikat, maka jam-jam dalam koleksi saya terdiri dari banyak merek baik merak Jepang, Amerika, Rusia maupun Swiss. Jenisnya pun macam-macam, dari dress watch sampai sport. Saya ingat sekali saat jumlah jam yang saya simpan sudah mencapai angka 15, istri saya mulai buka suara. "Jam banyak banget kok nggak ada yang bagus sih? mbok ya dijual2in aja ganti yang bagusan dikit!". Tapi karena kecintaan saya pada jam antik begitu tinggi, maka ucapan itu tidak saya hiraukan dan koleksi saya semakin bertambah dan bertambah terus....herannya, istri malah tidak pernah ngomel lagi. Mungkin capek ya karena diomelin juga nggak mempan sih.. :-).


BERSAMBUNG...


1 Responses So Far:

KIOS OHOY said...

Mantep gan artikelnya

(Y) ^_^